Hi, long time no see. Hope you’re all doing well and in a good condition.
Lately, i feel lonely.
Pernah denger lagu "Dalane rame, atiku sepi...."? Kurang lebih kayak gitu lah ya...Tempatnya rame, aktivitas jalan terus, tapi hati kok berasa sepi dan capek. Kayak cuma aq doang yang masih semangat mikir, berjuang, dan pengin bergerak, sementara yang lain ya jalan aja sesuai maunya....
They just do what they want to do. Atau lebih tepatnya, they only do what they are told to do.
Pelan-pelan, kondisi kayak gini tuh bikin demotivasi.
Makanya judul postingan ini aq buat seperti itu.
Di postingan ini, aq pingin sedikit beropini tentang tantangan aktualisasi diri di lingkungan yang minim ambisi. Aq bilang minim ambisi karena kebanyakan orang kerjanya by instinct. Nggak ada target yang jelas, nggak dibuka ruang diskusi untuk gimana capai kinerja yang tinggi.
Inisiatif ciptakan inovasi? Berprestasi? Atau sekedar nanya "Can we do this better?" Kayaknya jarang banget deh. Yang ada sebatas kerja apa yang disuruh kerjakan,Kalau nggak ada instruksi mengerjakan sesuatu, berarti nggak ada yang perlu dikerjakan. Ya udah, selesai. Hahaha.
Masalahnya, diriku bukan tipe yang bisa diam dan tutup mata kalau lihat kondisi kayak gitu. Ingin rasanya aq bagi-bagi ide di kepala ini ke semuanya. Pingin banget rasanya ngajak diskusi, share pikiran, mikir bareng. Tapi apa daya diriku sebatas e es en biasa, bukan siapa-siapa, not decision-maker.
Hal-hal kayak gini ini yang kadang bikin drop dan bertanya dalam hati "buat apa aq disini?" kalau pola kerjanya bakal gini terus, sebaiknya q mutasi aja nggak sih...
Tapi pertanyaan itu sering q jawab sendiri.
Masa iya aq gak bisa? Masa iya aq gak mau nyoba?
I think i can. I think we can.
Jadi aq pilih bertahan. Tetap disini, tetap berusaha dan tunjukkan yang terbaik dari q. Walaupun kadang rasanya sendirian banget. Buat aq, inilah tantangannya.
Aq sadar, tantangan orang lain bisa jauh lebih berat. Ada yang harus ninggalin anaknya nangis tiap berangkat kerja, ada yang anaknya sakit, ada juga yang keluarganya lagi ada masalah. Dibandingin itu, problem aq kelihatannya cuma soal kerjaan. Hehehe.
Pernah someone bilang "Kamu ini diskusinya kok bahas kerjaan mulu sih, secinta itukah kamu sama this place?"
I think it's not like that. Mungkin ya most of my time emang aq habisin di sini. Jadi wajar aja kalau pikiran aq muter-muter di sekitaran tempat ini. Aq peduli karena aq ada di dalamnya.
Kadang terbersit juga semisal aq ikut arus aja dengan lingkungan ini, what will happen? Just be cuek, nggak peduli, dan ngerjain tugas aq sendiri aja. Terserah yang lain mau gimana.
Sepertinya pernah q coba. Dan ya, semuanya tetap berjalan seperti biasa.
But it becomes slow. Pelan banget.
Kayak slow living, tapi bukan yang mindful dan menyenangkan. Apa ya? Lebih ke stagnan gitu.
Dan dari situ aq sadar, buat aq tantangan terbesar aktualisasi diri itu bukan soal beban kerja atau keterbatasan. Tapi soal gimana caranya tetap mau bertumbuh di lingkungan yang nggak nuntut pertumbuhan itu sendiri.
Maybe growing quietly is my form of resistance. Bukan buat ngelawan orang lain, tapi buat ngelawan stagnasi. Capek sih. Tapi sejauh ini, aq masih mau bertahan dan bertumbuh.
Aktualisasi diri tidak selalu harus keras, ambisius, atau penuh pengumuman.
Kadang cukup dalam bentuk disiplin sunyi, belajar diam-diam, dan pilihan-pilihan kecil yang konsisten dikerjakan.
Aq tidak menuntut semua orang untuk berambisi sama. Setiap orang punya ritmenya sendiri. Tp aq juga belajar untuk tidak mematikan apiq sendiri serta menurunkan standar demi menyesuaikan diri.
So,keep the spirit! 💪💪💪
No comments:
Post a Comment