Kali ini aq mau share cerita dari novel yang barusan q tamatin bacanya. Novel ini berjudul "Rindu" karya bang Darwis Tere Liye. Aq pinjam novel ini dari Bu Sylvi, rekan kerja q di kantor yang juga hobi koleksi novel2 Tere Liye. Novel ini baru q bawa pulang Senin kemarin dan Kamis siang ini q sudah tamat bacanya. Padahal halamannya ada 544 loh, tapi memang kalo baca novel Tere Liye aq selalu penasaran pingin cepet2 abisin n tau endingnya.
Ok, ceritanya dimulai dari kedatangan kapal uap besar milik Belanda "Blitar Holland" yang mengangkut jamaah haji di pelabuhan Makasar pada tahun 1938. (Awal membaca cerita ini aq menerka2 alur cerita tentang kerinduan seorang muslim ke Tanah Suci, tapi ternyata salah total dan ceritanya penuh kejutan). Setelah itu masuklah para pemeran utama ke dalam kapal uap tersebut. Diawali oleh tokoh pertama Daeng Andipati (40an th), seorang pedagang sukses dan berpendidikan dari Makasar yang hendak berangkat haji bersama seluruh anggota keluarganya. Ada 2 anaknya: Anna (11 th) dan Elsa (15 th), gadis kecil yang menjadi penyemarak perjalanan ke tanah suci, istrinya yang ternyata hamil 6 minggu diketahui setelah 2 hari perjalanan, dan Bi Ijah yang setia memasak untuk keluarga tersebut. Muncul juga tokoh pembantu yang tak kalah penting yaitu Kapten Phillips (kapten kapal uap) yang ramah dan baik hati menyambut keluarga tersebut di atas kapal.
Muncul berikutnya tokoh kedua yang memberikan inspirasi dalam setiap nasehat2nya, ialah Gurutta Ahmad Karaeng (75an th). Dia adalah ulama masyhur yang menjadi imam di Masjid Katangka Makassar dan dihormati oleh masyarakat Makasar hingga Pare-Pare. Dia dikenal dapat menjawab setiap pertanyaan dengan bijak di kapal tersebut dan menjadi orang yang dituakan selama perjalanan. Dalam novel ini dikisahkan dia sangat dibenci oleh Sersan Lucas, tentara Belanda yang ditugaskan mengawal kapal hingga ke Rotterdam. Sersan Lucas bahkan hampir membuat Gurutta batal berangkat haji jika Gurutta tak menyiapkan surat rekomendasi dari gubernur belanda.
Selanjutnya muncul tokoh Ambo Uleng (24an th) yang artinya pemuda yang bersinar bagai rembulan. Pemuda itu berkulit hitam, melamar menjadi kelasi di kapal uap yang dinakhkodai Kapten Phillips. Ia adalah pelaut sejak kecil dan pernah menjadi juru mudi kapal phinisi. Dikisahkan ia melamar sebagai kelasi karena ingin pergi sejauh mungkin meninggalkan Pare-Pare. Ambo Uleng sekabin dengan kelasi senior Ruben boatswain yang baik hati.
Tokoh lainnya yang muncul kemudian adalah Bonda Upe (40an th) yang berangkat haji bersama suaminya. Ia adalah seorang China Muslim yang mengajukan diri menjadi guru mengaji di kapal tersebut. Nama aslinya adalah Ling Ling, digambarkan cantik, putih, rupawan dan selalu mengenakan Cheongsam yang tertutup.
Tokoh terakhir muncul di pelabuhan Semarang, ialah pasangan paling romantis di kapal itu Mbah Kakung (80an th) dan istrinya Mbah Putri (75an th) yang berangkat haji dari hasil menabungnya berpuluh2 tahun. Mereka ditemani putri sulungnya dan tinggal di kabin sebelah keluarga Daeng. Pasangan ini memberikan inspirasi romantisme kepada seluruh penumpang di kapal tersebut.
Tere Liye menjadikan kelima tokoh tersebut sentral cerita dan menyelipkan nasehat-nasehat bijak dalam setiap cerita. Kelima tokoh tersebut memiliki pertanyaan besar yang dibawanya sejak menaiki kapal uap dan berniat pergi haji. Pertanyaan pertama terungkap ketika kapal uap berada di Batavia. Diajukan oleh Bonda Upe terkait kisah masa lalunya yang memilukan sebagai mantan cabo di Macau Po. Di sini Gurutta berperan sebagai penjawab pertanyaan tersebut. Intinya tentang penerimaan (berhenti lari dari kenyataan hidup), berhenti cemas atas penilaian orang lain dan nasehat untuk selalu berbuat baik sebanyak mungkin. (Tere Liye selalu membuat q kagum dan merenung dengan pilihan kalimat2nya).
Pertanyaan kedua tentang kebencian kepada seseorang yang seharusnya disayangi. Diajukan oleh Daeng Andipati dan lagi2 dijawab dengan sangat baik oleh Gurutta. Dikisahkan bahwa Daeng sangat membenci ayah kandungnya. Bahkan sepeninggal ayahnya, dia tetap sangat membencinya. Hingga nasehat dari Gurutta itu datang. "Berhenti membenci orang lain, karena kau sedang membenci diri sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru dan bukalah lembaran baru". (Huuft, ngena banget ini).
Berikutnya adalah pertanyaan dari Mbah Kakung yang kehilangan kekasih hati. Dalam perjalanan selewat Banda Aceh menuju pelabuhan Kolombo, Mbah Putri meninggal dunia. Mbah Kakung pun sangat kehilangan kekasih hatinya yang telah 60 tahunan menemani hidupnya baik senang maupun susah. Seluruh penumpang berduka. Mbah Putri dimakamkan di lautan lepas Samudera Hindia. Mbah Kakung terpuruk sampai tidak mau makan hingga Gurutta yang lebih muda 5th memberi nasehat "Yakinilah takdir Allah adalah yang terbaik, biarkan waktu mengobati semua kesedihan dan lihatlah penjelasan setiap kejadian dari kacamata yang berbeda". (So sweet pilihan kalimatnya).
Pertanyaan berikutnya adalah cinta
sejati yang disampaikan oleh Ambo Uleng. Ia patah hati hingga berniat pergi
sejauh mungkin dari kota kelahirannya. Cintanya dan kekasih hati tak direstui
oleh orang tua si Gadis, bahkan si Gadis sudah dijodohkan dan akan dinikahkan
setelah musim haji nanti. Ia selalu bertanya2 : "Apakah iti cinta
sejati? Apakah masih bisa berjodoh? Apakah masih punya kesempatan?".
Gurutta pun menjawab dengan sangat bijaksana: "Dalam kasus ini cinta
sejati adalah melepaskan. Semakin sejati perasaan itu maka semakin tulus
melepaskannya. Lepaskanlah, maka esok lusa jika ia cinta sejatimu maka ia akan
kembali dengan cara mengagumkan. Jika tidak kembali, maka ia bukan cinta
sejatimu. Kendalikan harapan dan keinginan memiliki maka sebesar apapun wujud
kehilangan maka kau akan siap menghadapinya. Jika tidak bisa memilikinya maka
esok lusa akan ada pengganti yang lebih baik".
Pertanyaan terakhir datang dari
Gurutta itu sendiri yaitu tentang kemunafikan. Dikisahkan Gurutta banyak
menulis buku dan selama dalam kapal tersebut ia telah menyelesaikan satu buku
berjudul "Kemerdekaan Hak Segala Bangsa". Ia menjunjung tinggi
kebebasan dan kemerdekaan, namun tidak pernah mau berjuang menggunakan
kekerasan. Saat ia ketahuan menyelesaikan buku tersebut, Sersan Lucas
menangkapnya dan memasukkannya ke penjara kapal di ruang mesin. Selang beberapa
saat, terjadi perompakan di kapal oleh perompak somalia. Ambo yang
berpengalaman dengan perompak mencari cara untuk melawan karena tentara belanda
yang berjaga termasuk Sersan Lucas telah KO dan Blitar Holland sah dikuasai
Asad Sang Penakluk (ketua perompak). Saat itu yang belum dikuasai adalah ruang
mesin tempat gurutta ditahan. Ia mempunyai ide untuk mengajak kelasi dan
tentara yang tersisa beserta penumpang laki2 dewasa yang disandra melawan
perompak saat lampu dimatikan dari ruang mesin. Ia meminta Gurutta menuliskan
pesan berantai yang nantinya untuk mengajak penumpang laki2 dewasa yang
disandra bersama2 melawan. Gurutta menolak karna hal itu membahayakan
penumpang. Saat itulah Ambo berhasil mencungkil penjelasan atas pertanyaan
besar Gurutta: "Aku selalu menulis tentang kemerdekaan tapi ia tak
pernah berani melakukannya secara konkret. Aku selalu menghindar lari dari
pertempuran dengan alasan ada jalan keluar yang lebih baik. Aku tidak pernah
memimpin perlawanan. Aku pengecut, selalu lari dan tidak sedetikpun hadir dalam
pertempuran melawan penjajah". Ambo mengingatkan Gurutta yang pernah
berceramah bahwa: "Lawanlah kemungkaran dengan tiga hal. Tanganmu,
tebaskan pedang dengan gagah berani. Lisanmu, sampaikan dengan perkasa. Atau
dengan benci dalam hati tapi itu sungguh selemah-lemahnya iman. Dan untuk
melawan perompak somalia serta menyelamatkan penumpang tidak bisa dilakukan
dengan lisan ataupun benci dalam hati saja. Kita harus menggunakan tangan,
menebas pedang". Akhirnya Gurutta pun bersedia memimpin perlawanan
tersebut dengan mulai menulis pesan berantai.
Dan yes, dimulailah perlawanan itu
sehingga Blitar Holland kembali dinakhkodai Kapten Phillips. Akhirnya
Ambo ikut turun di jeddah bersama jamaah haji lainnya untuk menunaikan ibadah
haji dan kembali bekerja saat kapal itu datang menjemput. Istri Daeng pun
melahirkan bayi kembar laki2 di atas kapal dalam perjalanan pulang ke Makasar.
O ya, Mbah Kakung pun menunaikan haji dengan khidmad dan menyebut nama istrinya
di depan Ka'bah kemudian meninggal di atas kapal dalam perjalanan pulang ke
Semarang. Ia juga dimakamkan di lautan samudera hindia persis tempat Mbah Putri
dimakamkan. Gurutta akhirnya juga melakukan perjuangan kemerdekaan dengan
memimpin pertempuran di Tanah Bugis. Dan satu kejutan lagi adalah Ambo akhirnya
menikah dengan kekasih hatinya karena secara tidak diduga perjodohan Gadis itu
adalah dengan murid Gurutta dan Gurutta memilih Ambo sebagai murid terbaiknya.
(Hah, pokoknya happy ending banget ini novel trus seru dan penuh kejutan menyenangkan).
Jadi, judul Rindu itu udah tau maknanya kah? Kalau baca cerita keseluruhan pasti ngerti. Tapi aq sendiri bingung mau menuliskannya gimana. Jadi q kutip aja kalimat Tere Liye ya: "Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja".
Sekian ya resensi novel Rindu yang barusan q
tamatin. Abis ini mau pinjam novel Tere Liye yang judulnya Bumi. Kayaknya Bu
Syl punya deh, hehehehe modal minjem. O ya ini penampakan covernya :Jadi, judul Rindu itu udah tau maknanya kah? Kalau baca cerita keseluruhan pasti ngerti. Tapi aq sendiri bingung mau menuliskannya gimana. Jadi q kutip aja kalimat Tere Liye ya: "Wahai, bukankah banyak kerinduan saat kami hendak melupakan? Dan tidak terbilang keinginan melupakan saat kami dalam rindu? Hingga rindu dan melupakan jaraknya setipis benang saja".
NB : Correct Me If I am Wrong (CMIIW) with the story :)

No comments:
Post a Comment